AHMAD PAZIL MD ISA

PERANG HUNAIN

 



Perang Hunain menjadi salah satu bentuk teguran dan peringatan bagi kaum muslimin. Pertempuran itu terjadi setelah peristiwa Fathul Mekah, tepatnya pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijriyah.


Menurut buku Manhaj Dakwah Rasulullah karya Prof Dr Muhammad Amahzun, pada awal perang berlangsung kaum muslimin sempat mengalami kekalahan. Mereka lari dan mundur seribu langkah ke belakang tiap kali berhadapan dengan kaum musyrikin yang bersenjata lengkap dengan strategi jitu.


Namun, atas pertolongan ALLAH S.W.T maka kaum muslimin berhasil mengalahkan mereka. Dijelaskan dalam buku Para Panglima Perang Islam oleh Rizem Aizid, Perang Hunain juga disebut kebalikan dari Perang Uhud. Pada Perang Uhud, kaum muslimin sempat mengalami kemenangan dan diakhiri dengan kekalahan. Sebaliknya, di Perang Hunain justru banyak pasukan muslim yang terbunuh karena kepanikan dan keraguan mereka sendiri.


Peristiwa Perang Hunain diabadikan dalam surat At Taubah ayat 25-27 yang berbunyi,


لَقَدْ نَصَرَكُمْ اللّٰهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمْ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥) ثُمَّ أَنزَلَ اللّٰهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنزَلَ جُنُوداً لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ (٢٦) ثُمَّ يَتُوبُ اللّٰهُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللّٰهُ غَفُورٌ رَحِيم (٢٧


Ertinya, "Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir. Setelah itu Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah maha Pengampun, Maha Penyayang" (QS At Taubah: 25-27)


Ketika perang berlangsung, Nabi Muhammad S.A.W mengirim pasukan sebanyak 12,000 orang. Dari 12,000 itu, sebanyak 2,000 tentera merupakan kaum Quraisy yang baru masuk Islam setelah peristiwa Fathul Mekah.


Rasulullah S.A.W menunjuk Khalid bin Walid menjadi pimpinan pasukan garis depan yang bertugas sebagai pasukan pengintai. Sayangnya, Khalid gagal menjalankan tugas, hampir seluruh perajuritnya melarikan diri.


Perang Hunain sempat kacau kerana pasukan muslim termakan sifat sombong. Mereka merasa tidak akan kalah kerana berjumlah banyak berbimbang musuhnya, kerananya banyak pasukan yang lari tunggang langgang dari medan perang.


Walau begitu, Perang Hunain diakhiri dengan kemenangan pasukan muslim. Hal ini juga disebutkan oleh Anas bin Malik dalam sebuah riwayat.


Anas bin Malik berkata,


"Pada Perang Hunain, musuh Islam terdiri atas Hawazin, Ghathfan, dan suku lainnya. Mereka datang dengan membawa harta dan budak-budak mereka. Sedangkan Rasulullah S.A.W membawa 10,000 pasukan ditambah dengan orang-orang Makkah yang baru masuk Islam. Pada perang itu, para sahabat melarikan diri meninggalkan Rasulullah S.A.W sendirian. Akhirnya beliau menengok ke arah kanan, dan berkata, 'Wahai muslimin Ansar!' Mereka menjawab, 'Bergembiralah, wahai Rasulullah, kami selalu bersamamu,' Kemudian, beliau menengok ke arah kiri, dan berkata, 'Wahai muslimin Ansar!' Yang dipanggil menjawab, 'Bergembiralah, wahai Rasulullah, kami selalu bersamamu,' Lalu, beliau turun dari keldai putihnya, dan berkata, 'Aku ini hamba Allah dan Rasul-Nya," (HR Bukhari)


Situasi saat itu terbilang genting. Nabi Muhammad S.A.W bersama sekelompok muslimin yang salah satunya Ali bin Abi Thalib tetap bertahan di barisan depan. Lalu, baginda berteriak memanggil para pasukannya yang lari kucar-kacir itu, "Akulah Rasulullah, mari bergabung bersamaku!" Kemudian, Nabi S.A.W memerintahkan bapa saudaranya yang bernama Abbas untuk menyeru kaum muslimin, kerana suaranya lantang. Maka, Abbas berseru, "Wahai kelompok Anshar, wahai mereka yang berbaiat di bawah pohon! Rasulullah bersama orang-orang beriman yang benar sedang bertempur dengan dahsyat," Demikianlah, kaum muslimin menepis rasa takut yang menghantui mereka. Setelahnya, perajurit muslim berkumpul mengelilingi Nabi S.A.W yang berhasil mengubah kekalahan mereka menjadi kemenangan.


Kemudian lagi-lagi arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi S.A.W yang memberikan ghanimah terhadap orang- orang yang bergabung dengan Islam hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ghanimah Hunain kepada kaum Ansar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah S.A.W telah menemui kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah S.A.W dan memberitahunya bahawa kaum Ansar sedang marah. Rasul S.A.W bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau membagikan ghanimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah S.A.W bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku tidak lain kecuali seseorang dari kaumku." Rasulullah S.A.W berkata: "Kumpulkanlah kepadaku kaummu untuk masalah yang penting ini dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah aku." 


Sa'ad mengumpulkan seluruh kaum Ansar lalu dia memberitahu Rasulullah S.A.W bahawa dia telah mengumpulkan mereka. Rasulullah S.A.W keluar menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka sambil memuji ALLAH S.W.T dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Ansar, tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian dalam keadaan sesat lalu ALLAH S.W.T memberikan petunjuk kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir lalu ALLAH S.W.T memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan lalu ALLAH S.W.T menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Rasulullah S.A.W berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab wahai kaum Ansar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala kurnia hanya milik ALLAH S.W.T dan Rasul-Nya." 


Rasulullah S.A.W berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mahu nescaya kalian akan mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang terusir, maka kami melingdungimu dan engkau datang dalam keadaan miskin lalu kami menghiburmu dan engkau datang dalam keadaan ketakutan lalu kami mengamankanmu dan engkau datang dalam keadaan teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan kurnia bagi ALLAH S.W.T dan Rasul-Nya." Rasulullah S.A.W berkata: "Wahai kaum Ansar, apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru melupakan kurnia yang telah ALLAH S.W.T berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Ansar merasa puas ketika manusia pergi untuk melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah S.A.W. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu jalan dan kaum Ansar melalui jalan yang lain nescaya aku akan melalui jalan kaum Ansar. Ya Allah, rahmatilah kaum Ansar dan anak-anak kaum Ansar dan cucu kaum Ansar." 


Mendengar doa itu, kaum tersebut menangis sehingga janggut mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela dengan ALLAH S.W.T sebagai Tuhan dan sangat puas dengan pembahagian Rasulullah S.A.W." Kemudian Nabi S.A.W pun meninggalkan mereka dan mereka pergi dalam keadaan puas. Orang-orang Ansar memahami bahawa Muslim yang hakiki di dunia adalah seorang yang datang di dunia untuk memberi, bukan untuk mengambil. Nabi S.A.W terbangun dan baginda mendapati dirinya sendirian di kamar. Suhu tubuh baginda meningkat kerana demam, lalu baginda memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada Rasulullah S.A.W sampai demam beliau beransur-ansur sedikit menurun. Tampak bahawa waktu berlalu cukup lambat dan berat. Sakit Rasulullah S.A.W semakin meningkat.

Comments