a
Mukjizat pembelahan lautan masih segar di fikiran mereka. Pasir-pasir laut yang basah masih membekas dan masih terdapat dalam sandal- sandal Bani Israil ketika mereka lewat di depan kaum yang menyembah berhala. Seharusnya mereka menampakkan kemarahan mereka atas kelaliman terhadap akal, dan mereka memuji kepada ALLAH S.W.T kerana mereka mendapatkan petunjuk pada jalan keimanan dan kebenaran. Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika melihat orang-orang yang menyembah berhala itu dan mereka pun menginginkan hal yang sama. Mereka merasakan kerinduan kepada hari-hari syirik yang lalu yang mereka dapati di bawah naungan Fir'aun. Nabi Musa mengetahui betapa bodohnya mereka.
ALLAH S.W.T berfirman:
"Dan Kami seberangkan Bani Israel ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).' Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab: 'Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cubaan yang besar dari Tuhanmu. " (QS. al-A'raf: 138-141)
Musa berjalan bersama kaumnya di Saina', iaitu suatu gurun yang di dalamnya terdapat pohon yang dapat melindungi dari sengatan matahari dan di dalamnya terdapat makanan dan air. Kemudian rahmat ALLAH S.W.T turun kepada mereka di mana mereka mendapatkan al-Manna dan Salwa dan mereka dinaungi oleh awan. Al-Manna adalah makanan yang rasanya mendekati manis dan ia dihasilkan oleh sebahagian pohon-pohon yang berbuah di mana angin membawa kepada mereka rasa demikian ini dari daun-daun pohon. ALLAH S.W.T juga mengirim kepada mereka as-Salwa, iaitu salah satu burung yang bernama as-Saman.
Ketika mereka merasakan kehausan yang sangat saat di Saina' tidak ada setitis air pun maka Nabi Musa memukulkan dengan tongkatnya kepada batu sehingga batu itu memancarkan dua belas mata air. Bani Israil terbagi menjadi dua belas cucu maka ALLAH S.W.T mengirim air tersebut kepada setiap kelompok. Meskipun mereka mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang sedemikian rupa, tetapi lagi-lagi jiwa mereka yang sakit tidak dapat menyedarkan mereka untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini. Mereka justru mendebat Nabi Musa dan mengatakan bahawa mereka bosan dengan makanan ini dan mereka ingin memiliki bawang merah dan bawang putih serta kacang-kacangan. Semua makanan ini adalah makanan tradisional Mesir. Bani Israil meminta kepada Nabi mereka untuk berdoa kepada ALLAH S.W.T dan mengeluarkan dari bumi makanan- makanan ini. Nabi Musa melihat bahawa mereka menganiaya diri mereka sendiri, dan Nabi Musa menyedari betapa mereka merindukan kehinaan mereka saat mereka bersama Fir'aun. Mereka berani menolak makanan-makanan yang baik dan makanan-makanan yang mulia, dan sebagai gantinya, mereka malah menginginkan makanan-makanan yang rendah mutunya. ALLAH S.W.T berfirman:
"Dan ingatlah ketika kamu berkata: 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu, mohon-kanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: 'Sayur-sayuran, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.' Musa berkata: 'Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.' Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) kerana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikianlah itu (terjadi) kerana mereka selalu berbuat derhaka dan melampaui batas. " (QS. al-Baqarah: 61)
Nabi Musa berjalan bersama kaumnya menuju Baitul Maqdis. Nabi Musa memerintahkan kaumnya untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada di dalamnya serta berusaha menguasai tempat itu. Demikianlah telah datang ujian terakhir kepada mereka setelah mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat ALLAH S.W.T serta hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka untuk berperang - kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum penyembah berhala. Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki tanah suci. Nabi Musa berusaha menyedarkan mereka dengan menceritakan bagaimana nikmat ALLAH S.W.T yang turun kepada mereka; bagaimana ALLAH S.W.T menjadikan di tengah-tengah mereka para nabi dan menjadikan mereka raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana mereka diberi suatu kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh seseorang pun di dalam dunia.
Kaum Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa di dalamnya terdapat kaum yang perkasa dan mereka tidak akan masuk ke tanah suci sehingga orang-orang yang kuat itu keluar darinya. Kitab-kitab kuno mengatakan bahawa mereka keluar dalam jumlah enam ratus ribu. Nabi Musa tidak dapat mendapatkan seseorang pun di antara mereka yang siap melakukan peperangan kecuali dua orang. Kedua orang ini berusaha untuk menyedarkan kaum agar mereka memasuki tanah suci itu dan berperang. Mereka berdua berkata: "Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu darinya maka kalian akan mendapatkan kemenangan." Tetapi Bani Israil menampakkan ketakutan dan tubuh mereka tampak gementar.
Pada kali yang lain - sesuai dengan tabiat mereka - mereka merindukan menyembah berhala ketika melihat ada kaum yang menyembah berhala. Mereka telah rosak dan mereka telah kalah dari dalam diri mereka; mereka telah biasa mendapatkan kehinaan sehingga mereka tidak mampu berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu untuk bersikap tidak sopan pada Nabi Musa as dan kepada Tuhannya. Kaum Nabi Musa berkata kepadanya dalam kalimat yang terkenal:
"Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. al-Maidah: 24)
Mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa malu. Nabi Musa mengetahui bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah mati tetapi pengaruhnya tetap tertanam dalam jiwa mereka di mana untuk mengubatinya memerlukan waktu yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya dan memberitahu-Nya bahawa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan saudaranya. Nabi Musa berdoa buruk kepada kaumnya agar ALLAH S.W.T memisahkan antara dirinya dan mereka. ALLAH S.W.T menurunkan keputusan-Nya kepada generasi ini yang telah rosak fitrahnya. Iaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan selama empat puluh tahun sehingga generasi ini mati atau mereka mencapai usia senja dan kemudian akan lahir generasi yang baru; generasi yang belum rosak jiwanya dan mereka akan dapat berperang dan memperoleh kemenangan.
ALLAH S.W.T berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikannya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seseorang pun di antara umat-umat yang lain.' Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (kerana takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang rugi. Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: 'Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya nescaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata: 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, kerana itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu. 'Allah berfirman: '(Jika demikian), maha sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. al-Maidah: 20-26)
Dimulailah hari-hari kesesatan. Mereka melewati tempat yang tertutup. Mereka memulai dari tempat yang mereka akhiri dan sebaliknya. Alhasil, mereka berjalan tanpa tujuan sepanjang siang-malam, pagi-sore. Mereka memasuki daratan di daerah Saina'. Nabi Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu di dalamnya untuk pertama kalinya dengan kalimat- kalimat ALLAH S.W.T. Bani Israil turun dari at-Thur, dan Nabi Musa mendaki gunung sendirian. Di sana diturunkan Taurat dan Tuhannya berdialog dengannya. Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab untuk mengurus kaumnya. Dan Musa pun pergi menuju Tuhannya.
ALLAH S.W.T berfirman:
"Dan telah Kami jadikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya iaitu Harun: 'Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)
Orang-orang dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh hari sepanjang malam dan siang tanpa mencecah makanan sedikit pun kemudian Nabi Musa tidak ingin untuk berdialog kepada Tuhannya sementara mulutnya dalam keadaan seperti mulut orang yang berpuasa. Lalu beliau memakan sedikit dari tanaman bumi dan beliau mengunyahnya. Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau berbuka?" Musa menjawab: "Ya Tuhanku, aku tidak ingin berbicara denganmu kecuali mulutku dalam keadaan baik baunya." ALLAH S.W.T menjawab: "Tidakkah engkau mengetahui wahai Musa bahawa mulut orang yang berpuasa di sisi-Ku lebih baik daripada bau misik. Kembalilah engkau berpuasa selama sepuluh hari kemudian datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as pun melaksanakan perintah-Nya.
Kami tidak mengetahui secara pasti, mengapa Nabi Musa berpuasa selama empat puluh malam, bukan tiga puluh hari. Yang kita ketahui bahawa ALLAH S.W.T menambah sepuluh hari yang lain. Setelah itu, turunlah Taurat; turunlah kepadanya sepuluh wasiat:
1. Perintah untuk hanya menyembah kepada ALLAH S.W.T dan tidak menyekutukan-Nya.
2. Larangan untuk bersumpah bohong atas nama ALLAH S.W.T.
3. Menjaga kehormatan pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari Sabtu sebagai hari ibadah.
4. Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5. menyedari bahawa ALLAH S.W.T yang dapat memberi dan membagi.
6. Janganlah engkau membunuh.
7. Janganlah engkau berzina.
8. Janganlah engkau mencuri.
9. Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10. Jangan engkau merasa tertipu atau terpikat kepada rumah temanmu atau Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.
Para ulama salaf mengatakan bahawa kandungan sepuluh wasiat ini telah terdapat dalam dua ayat dalam Al-Quran, yaitu dalam firman-Nya:
"Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua ibu dan bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)
ALLAH S.W.T menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa ketika ia pergi untuk menemui janji dengan Tuhannya. Musa ketika berpuasa selama empat puluh malam bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika ALLAH S.W.T berdialog dengannya, maka Musa merasakan cinta yang semakin bergelora kepada Tuhannya. Kami tidak mengetahui perasaan apa yang ada di hati Musa ketika ia meminta kepada Tuhannya agar dapat melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia mendorong dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana bayangan Anda terhadap cinta yang berhubungan dengan cinta kepada ALLAH S.W.T. Ia adalah hakikat cinta. Kedalaman perasaan Nabi Musa kepada Tuhannya dan kecintaannya kepada sang Pencipta, semua ini mendorongnya untuk meminta kepada ALLAH S.W.T agar dapat melihatnya.
ALLAH S.W.T berfirman:
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.'" (QS. al- A'raf: 143)
Demikianlah dorongan cinta dari para pencinta sejati. Musa bertanya dan meminta kepada Tuhannya sesuatu yang menakjubkan tetapi ALLAH S.W.T menjawabnya:
"Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf: 143)
Seandainya ALLAH S.W.T hanya mengatakan demikian maka ini pun sebagai bentuk keadilan dari-Nya, tetapi keadaan di sini adalah keadaan cinta Ilahi dari Musa. Dorongan cinta yang dibalas dengan dorongan cinta. Demikianlah Nabi Musa mendapatkan rahmat dari Tuhannya. ALLAH S.W.T memberitahunya bahawa ia tidak akan mampu melihat-Nya kerana tak satu pun dari makhluk yang tidak dapat "menangkap cahaya" dari ALLAH S.W.T. ALLAH S.W.T memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika gunung itu masih menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya.
ALLAH S.W.T berfirman:
"Tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. (QS. al-A'raf: 143)
Tiada seorang pun yang dapat "menangkap" cahaya ALLAH S.W.T. Nabi Musa mengetahui hakikat ini dan menyaksikan sendiri. Ash'aq adalah al-Maut (kematian) atau al-Ighma' (keadaan tidak sedarkan diri atau pengsan). Kami tidak mengetahui bagaimana keadaan yang dialami Nabi Musa ketika ia kehilangan kehidupannya atau kesedarannya.
"Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'" (QS. al-A'raf: 143)
Para mufasir klasik cukup serius meneliti dan memperbincangkan ayat- ayat ini. Misalnya, mereka bertanya-tanya: bagaimana Nabi Musa meminta kepada ALLAH S.W.T agar dapat melihat-Nya, padahal ia tahu bahawa itu adalah hal yang tidak mungkin atau mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan saling adu argumentasi. Mu'tazilah memiliki pendapat yang lain dan Ahlussunnah pun memiliki pendapat yang lain lagi. Pokok pembicaraan semuanya berkisar pada: bagaimana seorang nabi tidak mengetahui - padahal ia adalah makhluk ALLAH S.W.T yang paling dekat dengan-Nya - bahawa melihat ALLAH S.W.T adalah hal yang sangat mustahil?
Kami kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan kedalaman dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah yang dilalui oleh Nabi Musa. Kita sekarang berada di hadapan puncak cinta kepada ALLAH S.W.T. Dan seorang pencinta tidak menginginkan selain melihat "wajah" kekasihnya. Menurut logik akal bahawa melihat ALLAH S.W.T adalah hal yang mustahil, tetapi kapan cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa terdorong untuk mendapatkan pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang kayaknya ia sengaja melakukannya untuk mewakili kita semua. Nabi Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia lebih dahulu merasakan keadaan tidak sedarkan diri dan ia telah membuktikan kepada kita dengan tubuhnya yang mulia dan rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat "menangkap" cahaya ALLAH S.W.T. Nabi Musa dalam keadaan tak sedarkan diri lalu ketika bangun ia memuja-muja ALLAH S.W.T dan bertaubat serta meminta ampun kepadaNya:
"Dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau.'" (QS. al-A'raf: 143)
Mengapa Nabi Musa bertaubat? Orang-orang sufi berkata: Ia bertaubat dari dorongan cinta yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil, padahal dia menyedari itu adalah mustahil. Ini adalah tafsiran yang memuaskan yang didukung oleh konteks ayat-ayat tersebut. Perhatikanlah ayat-ayat (tanda-kebesaran) ALLAH S.W.T dan bagaimana Dia mengingatkan Musa terhadap apa-apa yang diterimanya dari berbagai macam nikmat. ALLAH S.W.T berkata kepada Musa:
"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya.'" (QS. al-A'raf:144-145)
Ahli tafsir memperhatikan firman ALLAH S.W.T kepada Musa: "Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku."
Kemudian dilakukanlah perbandingan antara Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain. Dikatakan bahawa pemilihan ini dikhususkan hanya kepadanya dan di zamannya saja, dan tidak berlaku di zaman sebelumnya kerana ada Nabi Ibrahim di zaman itu, sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga pemilihan ini tidak berlaku pada zaman setelahnya kerana ada Nabi Muhammad bin Abdullah S.A.W dan ia lebih baik dari mereka berdua.
Kami ingin menghindari perdebatan ini, bukan kerana kami percaya bahawa semua nabi sama. Memang ALLAH S.W.T memberitahu kita bahawa Dia mengutamakan sebahagian nabi atau sebahagian yang lain dan mengangkat darjat sebahagian mereka atau sebahagian yang lain, tetapi pengutamaan ini adalah hal yang tidak boleh kita sentuh. Hendaklah kita beriman kepada seluruh nabi dan kita harus menunjukkan penghormatan kita kepada mereka semua. Adalah bukan hal yang sopan jika kita mencuba membanding-bandingkan di antara para nabi. Yang utama adalah, hendaklah kita meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah perjumpaan Musa dengan Tuhannya.
1.png)
Comments
Post a Comment